Jumat, 04 Februari 2011
Daftar Pemain & Pelatih CHELSEA
1 Petr Cech Kiper
22 Ross Turnbull Kiper
40 Henrique Hilario Kiper
2 Branislav Ivanovic Bek
3 Ashley Cole Bek
17 José Bosingwa Bek
19 Paulo Ferreira Bek
23 David Luiz Bek
26 John Terry Bek
33 Alex Bek
43 Jeffrey Bruma Bek
- Billy Clifford Bek
5 Michael Essien Gelandang
7 Ramires Gelandang
8 Frank Lampard Gelandang
10 Yossi Shai Benayoun Gelandang
12 Jon Obi Mikel Gelandang
15 Florent Malouda Gelandang
18 Yury Zhirkov Gelandang
46 Jacopo Sala Gelandang
51 Josh McEachran Gelandang
52 Jacob Mellis Gelandang
9 Fernando Torres Striker
11 Didier Drogba Striker
21 Salomon Kalou Striker
39 Nicolas Anelka Striker
45 Fabio Borini Striker
- Carlo Ancelotti Manajer/Pelatih
Drogba, Malouda Siap Dijual Chelsea
Pembelian Torres dan Luiz memaksa Chelsea melakukan cuci gudang.
Chelsea dikabarkan harus menjual lima pemain untuk menutup dana pembelian Fernando Torres dan David Luiz yang mencapai £75 juta pada jendela transfer Januari.
Menurut the Sun, Didier Drogba, Florent Malouda, John Obi Mikel, Jose Bosingwa, dan Yuri Zhirkov dipastikan akan menjadi korban dan akan meninggalkan Stamford Bridge pada akhir musim.
Seorang sumber Chelsea menyatakan, "Ada beberapa nama besar dan pemain bergaji besar yang tampil buruk musim ini. Jika situasi tak membaik, akan ada korban pada musim panas."
Chelsea baru saja mengumumkan kerugian mencapai £70,9 juta, dan mereka sadar tentang peraturan keuangan UEFA baru, yang akan memastikan pengeluaran klub sesuai dengan pendapatan mereka.
Chelsea dikabarkan harus menjual lima pemain untuk menutup dana pembelian Fernando Torres dan David Luiz yang mencapai £75 juta pada jendela transfer Januari.
Menurut the Sun, Didier Drogba, Florent Malouda, John Obi Mikel, Jose Bosingwa, dan Yuri Zhirkov dipastikan akan menjadi korban dan akan meninggalkan Stamford Bridge pada akhir musim.
Seorang sumber Chelsea menyatakan, "Ada beberapa nama besar dan pemain bergaji besar yang tampil buruk musim ini. Jika situasi tak membaik, akan ada korban pada musim panas."
Chelsea baru saja mengumumkan kerugian mencapai £70,9 juta, dan mereka sadar tentang peraturan keuangan UEFA baru, yang akan memastikan pengeluaran klub sesuai dengan pendapatan mereka.
Ku Kendalikan Hati-Ku
Alkisah, seorang lelaki santun duduk di tepi sungai. Ia sudah beberapa lama tidak makan apapun. Lalu sebutir apel yang terbawa arus itu dipungutnya, dan dimakan. Sesaat kebutuhannya terpenuhi. Namun sesaat kemudian hati kecilnya menggugat. “Apel siapa ini? Mengapa aku memakannya tanpa minta izin?”
Lelaki itu menelusur ke hulu, mencari pemilik apel tersebut. Beberapa jauh kemudian ia menemukan pemiliknya. Ia minta tindakannya memakan apel hanyut tanpa izin pemiliknya tersebut dimaafkan. Abdullah, pemilik kebun, itu bersedia memaafkan dengan syarat tertentu. Yakni agar lelaki itu bersedia menikahi putrinya. “Tapi putriku itu buta, lumpuh, dan bisu,” kata Abdullah.
Lelaki itu mengangguk. Ia siap melakukan pekerjaan halal apapun untuk mendapatkan maaf. Hatinya tidak akan pernah tenang sebelum ia mendapatkan maaf itu. Pernikahan pun dilangsungkan. Sang istri, Fatimah, ternyata seorang gadis luar biasa. Cerdas, cantik, dan sama sekali tidak buta, lumpuh dan bisu. “Ia buta dari perbuatan melihat maksiat, lumpuh dari melangkahkan kaki ke tempat-tempat yang tidak benar, serta bisu dari ucapan yang tidak senonoh,” kata Abdullah. Mereka dikaruniai anak saleh yang kemudian menjadi tokoh besar sufi, Syekh Abdulqadir Jaelani.
Apa yang membuat ayah Abdulqadir Jaelani begitu bersusah payah mencari pemilik apel yang hanyut di sungai? Bukankah si pemilik tak merasa kehilangan bila sebutir apel dari kebunnya yang luas jatuh ke sungai. Ia juga akan merasa maklum jika ada yang memungut apel itu, dan kemudian memakannya. Ia tentu tidak akan mempersoalkan seandainya tahu siapa yang memakan apel itu. Apalagi ia sama sekali tidak tahu siapa yang memakan apel itu, bahkan tidak tahu kalau apelnya hanyut di sungai.
Tidak demikian bagi seorang saleh sejati seperti ayah Abdulqadir Jaelani. Sebutir apel, dalam keadaan sangat lapar, sungguh berarti bagi perutnya. Namun hatinya tidak dapat menerima apel tak bertuan itu. Hatinya terus terjaga dalam keadaan jernih. Noda setitik pun yang akan mengotori kejernihan hati akan membangkitkan mekanisme untuk membuang jauh noda itu, dan mengembalikan kejernihan hati seperti semula. Hati itu menggerakkan kakinya untuk melangkah, menggerakkan bibirnya untuk minta maaf, dan menggerakkan seluruh jiwa raganya untuk menerima persyaratan apapun buat mendapatkan maaf itu.
Apa yang sebenarnya ada pada hati itu sehingga mempunyai daya gerak yang begitu hebat?
Tuhan tidaklah memandang rupa seseorang. Tidak pula memandang bentuk seseorang itu. Namun, Tuhan memandang hati orang tersebut.
Lewat hati manusia pula, Tuhan mengungkapkan kehadirannya pada diri seseorang. Lewat hati seseorang dapat merasakan bahwa Tuhan memang “lebih dekat dibanding urat leher sendiri”. Lewat hati, seseorang dapat merasakan hal yang dalam penggambaran sufistik, “dengan mata-Nya ia melihat, dengan telinga-Nya ia mendengar, dengan tangan-Nya ia menyentuh.”
Sachiko Murata, profesor bidang studi agama di Universitas New York, menilai banyak ayat-ayat kitab suci yang membahas mengenai hati sebagai sentralitas pada diri manusia, Secara harfiah, hati itulah yang akan membalik, mengubah, memaju-mundurkan, serta menaik-turunkan manusia. Tidak berlebihan bila hati dipandang sebagai “lokus kebaikan dan kejahatan, maupun kebenaran-kesalahan.”
Hati yang akan mengendalikan seseorang hingga tenteram atau gelisah. Hati yang akan menentukan seseorang sukses atau tidak dalam mengarungi gelombang hidup. Itu yang menjelaskan mengapa para imam sufi tak henti untuk menekankan pentingnya, latihan tanpa akhir untuk mengendalikan hati.
Lelaki itu menelusur ke hulu, mencari pemilik apel tersebut. Beberapa jauh kemudian ia menemukan pemiliknya. Ia minta tindakannya memakan apel hanyut tanpa izin pemiliknya tersebut dimaafkan. Abdullah, pemilik kebun, itu bersedia memaafkan dengan syarat tertentu. Yakni agar lelaki itu bersedia menikahi putrinya. “Tapi putriku itu buta, lumpuh, dan bisu,” kata Abdullah.
Lelaki itu mengangguk. Ia siap melakukan pekerjaan halal apapun untuk mendapatkan maaf. Hatinya tidak akan pernah tenang sebelum ia mendapatkan maaf itu. Pernikahan pun dilangsungkan. Sang istri, Fatimah, ternyata seorang gadis luar biasa. Cerdas, cantik, dan sama sekali tidak buta, lumpuh dan bisu. “Ia buta dari perbuatan melihat maksiat, lumpuh dari melangkahkan kaki ke tempat-tempat yang tidak benar, serta bisu dari ucapan yang tidak senonoh,” kata Abdullah. Mereka dikaruniai anak saleh yang kemudian menjadi tokoh besar sufi, Syekh Abdulqadir Jaelani.
Apa yang membuat ayah Abdulqadir Jaelani begitu bersusah payah mencari pemilik apel yang hanyut di sungai? Bukankah si pemilik tak merasa kehilangan bila sebutir apel dari kebunnya yang luas jatuh ke sungai. Ia juga akan merasa maklum jika ada yang memungut apel itu, dan kemudian memakannya. Ia tentu tidak akan mempersoalkan seandainya tahu siapa yang memakan apel itu. Apalagi ia sama sekali tidak tahu siapa yang memakan apel itu, bahkan tidak tahu kalau apelnya hanyut di sungai.
Tidak demikian bagi seorang saleh sejati seperti ayah Abdulqadir Jaelani. Sebutir apel, dalam keadaan sangat lapar, sungguh berarti bagi perutnya. Namun hatinya tidak dapat menerima apel tak bertuan itu. Hatinya terus terjaga dalam keadaan jernih. Noda setitik pun yang akan mengotori kejernihan hati akan membangkitkan mekanisme untuk membuang jauh noda itu, dan mengembalikan kejernihan hati seperti semula. Hati itu menggerakkan kakinya untuk melangkah, menggerakkan bibirnya untuk minta maaf, dan menggerakkan seluruh jiwa raganya untuk menerima persyaratan apapun buat mendapatkan maaf itu.
Apa yang sebenarnya ada pada hati itu sehingga mempunyai daya gerak yang begitu hebat?
Tuhan tidaklah memandang rupa seseorang. Tidak pula memandang bentuk seseorang itu. Namun, Tuhan memandang hati orang tersebut.
Lewat hati manusia pula, Tuhan mengungkapkan kehadirannya pada diri seseorang. Lewat hati seseorang dapat merasakan bahwa Tuhan memang “lebih dekat dibanding urat leher sendiri”. Lewat hati, seseorang dapat merasakan hal yang dalam penggambaran sufistik, “dengan mata-Nya ia melihat, dengan telinga-Nya ia mendengar, dengan tangan-Nya ia menyentuh.”
Sachiko Murata, profesor bidang studi agama di Universitas New York, menilai banyak ayat-ayat kitab suci yang membahas mengenai hati sebagai sentralitas pada diri manusia, Secara harfiah, hati itulah yang akan membalik, mengubah, memaju-mundurkan, serta menaik-turunkan manusia. Tidak berlebihan bila hati dipandang sebagai “lokus kebaikan dan kejahatan, maupun kebenaran-kesalahan.”
Hati yang akan mengendalikan seseorang hingga tenteram atau gelisah. Hati yang akan menentukan seseorang sukses atau tidak dalam mengarungi gelombang hidup. Itu yang menjelaskan mengapa para imam sufi tak henti untuk menekankan pentingnya, latihan tanpa akhir untuk mengendalikan hati.
Mengapa Berteriak?
Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya;
“Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?”
Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab;
“Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak.”
“Tapi…” sang guru balik bertanya, “lawan bicaranya justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?”
Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu berkata; “Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak.
Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.”
Sang guru masih melanjutkan; “Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?” Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya.
Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban. “Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja
amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan.”
Sang guru masih melanjutkan; “Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat
seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu anda.”
“Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?”
Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab;
“Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak.”
“Tapi…” sang guru balik bertanya, “lawan bicaranya justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?”
Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu berkata; “Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak.
Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.”
Sang guru masih melanjutkan; “Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?” Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya.
Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban. “Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja
amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan.”
Sang guru masih melanjutkan; “Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat
seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu anda.”
Kamis, 03 Februari 2011
CURHAT JADI OBAT
Anda tahu Istilah CURHAT?, Istilah CURHAT atau mencurahkan isi hati biasanya beredar dikalangan remaja-remaja sekarang atau sering kita sebut ABG. Mereka berbagi cerita dengan teman, baik itu cerita suka ataupun duka, bahkan mereka mempublikasikan curahan hatinya agar dapat dibagi kepada orang-orang yang ia kenal. Biasanya mereka mempublikasikannya melalui blog, maupun situs jejaring sosial. Ada juga curhat melalui telepon ‘Premium Call’, siaran radio atau televisi; semua acara ini dikemas sedemikian rupa menjadi acara yang sangat menarik, tetapi menjadi lahan bisnis yang menjanjikan bagi pelaku bisnis ini.
Tapi mencurahkan isi hati bukan hanya milik para remaja, orang dewasapun sering melakukannya untuk menghilangkan unek-unek yang ada dihatinya atau berbagi kesenangan dengan sahabatnya. Ada sebuah kisah menarik mengenai CURHAT ini; Di Amerika ada seorang penulis buku yang sedang mengalami stress berat dan merasa dia kehilangan ide-ide segar untuk dijadikan bahan tulisannya. Kemudian ia menanyakan pada rekannya mengenai masalah yang dia hadapi tersebut, dan temannya menyarankan ia datang ke seorang psikiater untuk di terapi dan rekannya itu menyarankan agar ia mendatangi seorang psikiater di Jerman yang sangat terkenal. Singkat cerita Si Penulis terbang ke Jerman untuk terapi ke psikiater yang disarankan rekannya tersebut.
Sampai diruang psikiater tersebut, sang psikiater menjabat tangannya sambil tersenyum dan dengan gerakan tangannya menyuruh sang penulis masuk ke ruangannya dan duduk di kursi santai yang telah disediakan. Si penulis kemudian bercerita mengenai masalah-masalah yang ia alami dengan panjang lebar kepada psikiater yang mendengarkan dengan serius dan terkadang tersenyum apabila si penulis bercerita sambil tertawa. Si penulis merasa plong setelah menceritakan isi hatinya kepada psikiater tersebut dan ia merasa bahwa stress yang ia alami mulai hilang setelah terapi yang ia lakukan. Kemudian ia pamit kepada si psikiater dan pulang ke Amerika.
Sesampai di Amerika ia berterimakasih kepada rekannya atas saran yang diberikan untuk mengunjungi psikiater tersebut dan beban yang selama ini ia alami sudah terasa berkurang dan ia akan mulai lagi menulis buku.
Selama beberapa bulan sang penulis berkonsentrasi menulis buku dengan penuh ide-ide cemerlang yang sangat membuat hatinya senang dalam menyusun buku tersebut. Dan beberapa tahun kemudian si penulis telah menghasilkan beberapa buku yang beberapa diantaranya mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan menjadi “Best Seller”.
Si Penulis amat senang dan ia tidak lupa mengirimkan buku “Best Seller” hasil karyanya kepada psikiater yang telah membantunya. Didalam buku itu terdapat ucapan terimakasih si penulis kepada psikiater yang telah mengobati penyakitnya sehingga ia kembali menjadi manusia yang penuh ide-ide cemerlang.
Tapi mencurahkan isi hati bukan hanya milik para remaja, orang dewasapun sering melakukannya untuk menghilangkan unek-unek yang ada dihatinya atau berbagi kesenangan dengan sahabatnya. Ada sebuah kisah menarik mengenai CURHAT ini; Di Amerika ada seorang penulis buku yang sedang mengalami stress berat dan merasa dia kehilangan ide-ide segar untuk dijadikan bahan tulisannya. Kemudian ia menanyakan pada rekannya mengenai masalah yang dia hadapi tersebut, dan temannya menyarankan ia datang ke seorang psikiater untuk di terapi dan rekannya itu menyarankan agar ia mendatangi seorang psikiater di Jerman yang sangat terkenal. Singkat cerita Si Penulis terbang ke Jerman untuk terapi ke psikiater yang disarankan rekannya tersebut.
Sampai diruang psikiater tersebut, sang psikiater menjabat tangannya sambil tersenyum dan dengan gerakan tangannya menyuruh sang penulis masuk ke ruangannya dan duduk di kursi santai yang telah disediakan. Si penulis kemudian bercerita mengenai masalah-masalah yang ia alami dengan panjang lebar kepada psikiater yang mendengarkan dengan serius dan terkadang tersenyum apabila si penulis bercerita sambil tertawa. Si penulis merasa plong setelah menceritakan isi hatinya kepada psikiater tersebut dan ia merasa bahwa stress yang ia alami mulai hilang setelah terapi yang ia lakukan. Kemudian ia pamit kepada si psikiater dan pulang ke Amerika.
Sesampai di Amerika ia berterimakasih kepada rekannya atas saran yang diberikan untuk mengunjungi psikiater tersebut dan beban yang selama ini ia alami sudah terasa berkurang dan ia akan mulai lagi menulis buku.
Selama beberapa bulan sang penulis berkonsentrasi menulis buku dengan penuh ide-ide cemerlang yang sangat membuat hatinya senang dalam menyusun buku tersebut. Dan beberapa tahun kemudian si penulis telah menghasilkan beberapa buku yang beberapa diantaranya mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan menjadi “Best Seller”.
Si Penulis amat senang dan ia tidak lupa mengirimkan buku “Best Seller” hasil karyanya kepada psikiater yang telah membantunya. Didalam buku itu terdapat ucapan terimakasih si penulis kepada psikiater yang telah mengobati penyakitnya sehingga ia kembali menjadi manusia yang penuh ide-ide cemerlang.
Rabu, 02 Februari 2011
LEPASKAN IKATANMU
Di suatu hutan hiduplah sekelompok monyet. Pada suatu hari, tatkala mereka tengah bermain, tampak oleh mereka sebuah toples kaca berleher panjang dan sempit yang bagian bawahnya tertanam di tanah. Di dasar toples itu ada kacang yang sudah dibubuhi dengan aroma yang disukai monyet. Rupanya toples itu adalah perangkap yang ditaruh di sana oleh seorang pemburu.
Salah seekor monyet muda mendekat dan memasukkan tangannya ke dalam toples untuk mengambil kacang-kacang tersebut. Akan tetapi tangannya yang terkepal menggenggam kacang tidak dapat dikeluarkan dari sana karena kepalan tangannya lebih besar daripada ukuran leher toples itu. Monyet ini meronta-ronta untuk mengeluarkan tangannya itu, namun tetap saja gagal.
Seekor monyet tua menasihati monyet muda itu, “Lepaskanlah kepalanmu atas kacang-kacang itu! Engkau akan bebas dengan mudah!”
Namun monyet muda itu tidak mengindahkan anjuran tersebut, tetap saja ia bersikeras menggenggam kacang itu. Beberapa saat kemudian, sang pemburu datang dari kejauhan. Sang monyet tua kembali meneriakkan nasihatnya, “Lepaskanlah kepalanmu sekarang juga agar engkau bebas!”
Monyet muda itu ketakutan, namun tetap saja ia bersikeras untuk mengambil kacang itu. Akhirnya, ia tertangkap oleh sang
pemburu.
Demikianlah, kadang kita juga sering mencengkeram dan tidak rela melepaskan hal-hal yang sepatutnya kita lepaskan: kemarahan,
kebencian, iri hati, ketamakan, dan sebagainya. Apabila kita tetap tak bersedia melepas, tatkala kematian datang “menangkap” kita,
semuanya akan terlambat sudah. Bukankah lebih mudah jika kita melepaskan setiap masalah yang lampau, dan menatap hari esok dengan lebih cerah? Bukankah dunia akan menjadi lebih indah jika kita bisa melepaskan “kepalan” kita dan membagi kebahagiaan dengan orang lain ? (Swaramer)
Salah seekor monyet muda mendekat dan memasukkan tangannya ke dalam toples untuk mengambil kacang-kacang tersebut. Akan tetapi tangannya yang terkepal menggenggam kacang tidak dapat dikeluarkan dari sana karena kepalan tangannya lebih besar daripada ukuran leher toples itu. Monyet ini meronta-ronta untuk mengeluarkan tangannya itu, namun tetap saja gagal.
Seekor monyet tua menasihati monyet muda itu, “Lepaskanlah kepalanmu atas kacang-kacang itu! Engkau akan bebas dengan mudah!”
Namun monyet muda itu tidak mengindahkan anjuran tersebut, tetap saja ia bersikeras menggenggam kacang itu. Beberapa saat kemudian, sang pemburu datang dari kejauhan. Sang monyet tua kembali meneriakkan nasihatnya, “Lepaskanlah kepalanmu sekarang juga agar engkau bebas!”
Monyet muda itu ketakutan, namun tetap saja ia bersikeras untuk mengambil kacang itu. Akhirnya, ia tertangkap oleh sang
pemburu.
Demikianlah, kadang kita juga sering mencengkeram dan tidak rela melepaskan hal-hal yang sepatutnya kita lepaskan: kemarahan,
kebencian, iri hati, ketamakan, dan sebagainya. Apabila kita tetap tak bersedia melepas, tatkala kematian datang “menangkap” kita,
semuanya akan terlambat sudah. Bukankah lebih mudah jika kita melepaskan setiap masalah yang lampau, dan menatap hari esok dengan lebih cerah? Bukankah dunia akan menjadi lebih indah jika kita bisa melepaskan “kepalan” kita dan membagi kebahagiaan dengan orang lain ? (Swaramer)
Langganan:
Postingan (Atom)