Sabtu, 12 Februari 2011
Berubah Itu Beresiko, Namun Lebih Beresiko Bila Tidak Berubah
Unlimited Wealth
17 Hari Menuju Kebebasan Finansial
Oleh Bong Chandra
SINOPSIS
Buku ini adalah soal motivasi kebebasan finansial. Cukup fenomenal karena penulisnya ngetop. Buku ini gampang dicerna, bagaimana bisa bebas finansial. Ada 17 bab yang bisa dibaca cukup sepuluh menit. Maksudnya, setiap babnya dibaca 10 menit.
Unlimited Wealth 17 Hari Menuju Kebebasan Finansial, begitulah judul buku tersebut, salah satu buku motivasi dari sekian banyak, ribuan mungkin juga puluhan ribu buku yang beredar dipasaran yang membahas bagaimana menjadi seorang miliarder dalam kurun waktu tertentu.
Terus terang, bagi saya menjadi miliarder dengan membaca buku tersebut bagai mimpi disiang bolong. Apalagi bagi saya buku seperti obat tidur, baca beberapa halaman dan saya akan tertidur pulas. Mungkin karena saya termasuk orang yang cepat bosan dan malas dalam membaca buku. Oke lalu apa yang menarik dan berbeda dari buku Unlimited Wealth ini?? Sehingga saya memutuskan untuk membeli dan membaca buki ini????
Ketika saya mengunjungi toko buku, saya melihat buku Unlimited Wealth, yang membuat saya tertarik adalah sampul bukunya. Pada sampul tersebut, terdapat sosok muda sang penulis, begitu muda tetapi sudah meraih kesuksesan, setidaknya menurut kalimat pada buku itu; “MOTIVATOR TERMUDA no 1 di ASIA”. Kedua, yang menarik bagi saya adalah kalimat “Habis dibaca dalam 10 Menit”, untuk tipe orang seperti saya kalimat tersebut sangat penting. ^_^
Tentu saja saya sebelum memutuskan untuk membeli, saya harus membaca isi buku tersebut setidaknya secara sekilas untuk memastikan bahwa buku ini adalah cocok untuk saya dan bisa memberi manfaat. Kebetulan terdapat satu buku yang dijadikan sampel, dan saya membaca bab pertama yang berjudul “mata uang paling berharga adalah waktu”. Setelah membaca bab tersebut, saya memutuskan untuk membeli buku Unlimited Wealth
Benar saja, bahwa kalimat “Habis dibaca dalam 10 menit” adalah kalimat penambah daya tarik buku, secara logika tidak mungkin saya bisa menghabiskan buku yang terdiri dari 17 bab, 208 Halaman, dalam waktu 10 menit. “Habis dibaca dalam dalam 10 menit”, maksudnya adalah setiap bab dalam buku ini dapat habis dibaca dalam 10 menit. Begitulah isi buku ini disusun. selain disusun seperti diatas, pada akhir setiap bab kita diajak untuk memikirkan, menjawab pertanyaan dan mempraktekan isi bab yang telah kita baca.
Menerut saya sendiri dan kebanyakan orang, buku ini ditulis dengan gaya penyampaian yang sederhana, praktical, cenderung spesifik, dan tidak banyak teori-teori yang membuat mata saya menempel dibuku (ngantuk). Penulis buku ini sangat menganjurkan agar pembaca mempraktekkan apa yang disampaikannya. Anjurannya adalah, kita membaca satu bab / hari dan mempraktekannya secara langsung.
Buku ini juga memberikan bonus berupa CD Audio dan tiket seminar untuk 3 orang yg harganya cukup mengejutkan saya Rp 1.470.000,00. CD Audio tersebut akan sangat berguna bagi saya untuk senatiasa mengingatkan kembali apa yang telah saya baca, serta memompa motivasi yang sering naik turun. CD Audio tersebut rencananya akan saya rip menjadi MP3 agar bisa diperdengarkan, (hampir) dimana dan kapan saja.
Berdasarkan hal-hal diatas, akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku Unlimited Wealth
Kesimpulannya adalah, buku ini menarik baik dari sisi penyusunan, materi dan penyampaiannya. Jujur, bahwa saya baru membaca beberapa bab awal saja dan mencoba menerapkan dalan kehidupan sehari-hari, (maka dari itu judul artikel ini adalah Berubah Itu Beresiko, Namun Lebih Beresiko Bila Tidak Berubah), tetapi dari membaca buku ini saya terdorong untuk melakukan kegiatan yang disarankan, termasuk menulis artikel ini, hal yang sangat jarang saya lakukan.
Bagaimana manfaat dari buku ini?apakah benar-benar bisa membuat saya menjadi seorang milarder?Pertanyaan tersebut belum bisa saya jawab, Yang jelas seperti yang ada dalam buku Unlimited Wealth bab 4 yang berjudul “ Berubah Itu Beresiko, Namun Lebih Beresiko Bila Tidak Berubah ” Jadi kita tunggu saja apakah benar saya bisa menjadi seorang milarder?”. Tetapi manfaat dari membaca dan mempraktekan isi dan anjuran dari buku ini bisa saya lihat dengan jelas, walaupun belum tentu membuat saya menjadi seorang milarder.
Kamis, 10 Februari 2011
BONG CHANDRA; DIBENCI LALU DIPUJA
MajalahFranchise.com, Jakarta - Bong Chandra, pembicara berusia 22 tahun, mengaku banyak dibenci peserta seminar, ketika mengetahui usianya masih sangat muda belia untuk seorang pembicara. Betapa tidak, peserta seminar Bong - begitu ia disapa, rata-rata berusia jauh di atasnya.
“Peserta yang pertama kali datang mengikuti seminar saya banyak yang membenci, malu-malu dan emosional karena mengetahui akan mendengar seorang pembicara yang usia jauh dibawah mereka,” ujar Bong ketika ditemui majalahfranchise.com disela-sela break seminar bertajuk “Global Wealt Summit 2010” di Jitec Mangga Dua Square (30/01).
Namun demikian, setelah mengikuti seminar, tak sedikit yang berurai air mata karena terharu, semangatnya kian membara, serta pikirannya menjadi sangat terbuka untuk berubah dalam hidup terutama dalam hal bisnis.
Sehingga tak sedikit peserta yang ketagihan mengikuti seminar Bong. “Bahkan sampai sekarang saya sudah berbicara di depan 35 ribu peserta sejak saya menjadi pembicara diusia 20 tahun,” lanjut Bong.
Menyinggung soal franchise, Bong mengungkapkan telah memiliki sebuah bisnis car wash yang nantinya akan segera difranchisekan setelah berjalan 5 tahun.
“Kan kalau franchise itu bisnisnya harus terbukti sukses selama lima tahun dahulu. Maka untuk itu, sekarang kalau ada yang mau bergabung namanya bukan franchisee tetapi mitra business opportunity saja,” tutup dia. (Alan Jehunat).
Profil Bong Chandra Motivator Termuda No 1 Asia
Profil Bong Chandra. Muda, berwajah tampan, dan miliarder. Begitulah Bong Chandra, 23 tahun.
Disebut-sebut sebagai motivator termuda di Asia, Bong tiap Senin pagi sejak 11 Oktober lalu tampil dalam tayangan motivasi di salah satu stasiun televisi.
Dan bukunya, Unlimited Wealth, sudah terjual lebih dari 10 ribu kopi.
Dalam seminar-seminar yang dibawakannya, Bong kerap menyebutkan bahwa orang bisa memulai bisnis tanpa harus mengeluarkan uang. Contohnya adalah dirinya sendiri, yang sekarang menjalankan bisnis properti dan pencucian mobil. Kedua usaha ini berawal dari profesinya sebagai motivator, yang dijalankan sejak usia 20 tahun.
Kesuksesan ini tak diraih dengan mudah. Bong harus menempa dirinya dengan kerja keras. Saat usianya menginjak 18 tahun, Bong memilih berjibaku membangun bisnis ketimbang bersenang-senang seperti remaja seusianya.
Kerja keras Bong dimulai sejak krisis ekonomi 1998. Bencana itu membuat bisnis ayahnya, Aditya, terempas. Pabrik kuenya terancam gulung tikar. “Rumah sampai nyaris dijual,” katanya saat ditemui di salah satu tempat usahanya, Free Car Wash Serpong, Tangerang Selatan, Kamis lalu.
Bong, yang kala itu berusia 11 tahun, berempati atas terpuruknya ekonomi keluarga. Kebutuhan sekolah diusahakan sendiri. Contohnya ia lebih memilih kertas bekas dan memfotokopi buku pelajaran milik temannya ketimbang membeli baru. Beberapa alat tulis juga dibuatnya sendiri. “Saya menggunakan karet (gelang) untuk penghapus,” tuturnya.
Bong kecil juga menjual sisa potongan kue di pabrik ayahnya ke sekolah. Semula ia gengsi. Apalagi dia minder karena penyakit asma, yang membuat tubuhnya ringkih, sehingga kerap dicemooh oleh rekannya. Namun motivasi dia bertahan hidup lebih besar. Bong malah makin giat mengembangkan usaha. “Saya menjual parfum dan VCD (cakram padat).”
Saat masuk SMA, ia bersama seorang temannya nekat berbelanja pakaian ke Bandung meski tak punya duit. “Modalnya kepercayaan,” katanya. Pagi hari mereka berangkat, sore kembali ke Jakarta dengan membawa setumpuk baju yang siap dijual. Bong membuka lapaknya di Senayan dan Pasar Taman Puring, Jakarta Selatan. Ia juga menjual pakaian seragam kepada rekan dan adik kelasnya.
Bong Chandra sadar motivasi perlu dipertahankan karena cemoohan berpotensi mengendurkan semangatnya. Apalagi rekannya kerap menyindir Bong. “Seumuran kita harusnya bersenang-senang,” ujar Bong menirukan rekannya. Tapi ia berkukuh.
Beruntung, orang tuanya rajin memberi nasihat. Bong pun gemar membaca buku motivator dunia, seperti Donald Trump. “Keinginan sukses makin besar,” katanya. Kegemaran ini memudahkannya memotivasi diri. Ia pun mulai menasihati temannya yang patah semangat.
Ia makin yakin akan kualitas bakatnya memotivasi orang. Bersama lima rekannya, Bong membuat event organizer untuk pelatihan motivasi. Sasarannya orang-orang dekat. “Saya diminta beberapa rekan satu jemaat di gereja,” ujarnya.
Bong awalnya memotivasi para karyawan pemasaran. Selama dua tahun pertama, ia hanya memungut biaya operasional. “Ini investasi saya,” katanya. Apalagi tujuan bisnis ini tidak untuk mencari uang. “Saya memperluas pertemanan,” katanya.
Tak sulit bagi alumnus SMA Kalam Kudus Jakarta ini mendapatkan teman dari 90 ribu peserta pelatihannya, yang kebanyakan pelaku bisnis. “Kalau teman kita sukses, kita akan kecipratan sukses,” katanya. Keyakinan Bong yang kerap mengisi pelatihan di kalangan pebisnis properti ini benar. Ia mulai diajak sesama pembicara saat memberikan pelatihan di Real Estate Jawa Timur.
Awalnya Bong diminta mencarikan investor pembangunan properti seluas 5,1 hektare di Ciledug, Tangerang. Meski gagal, rekannya tak kecewa. Ia justru diminta bergabung menjalankan bisnis ini. Akhirnya Bong dan dua temannya menjalankan perusahaan properti senilai Rp 180 miliar sejak Januari lalu. “Ini modal networking,” katanya.
Keberuntungannya terus bergulir. Pelan-pelan banyak tawaran mengajaknya berbisnis bersama. Selain properti, Bong mendirikan bisnis pencucian mobil. Usaha ini dibangun di Buah Batu, Bandung, dan Serpong. Kini ia menjalankan tiga usaha dengan karyawan mencapai 100 orang.
Menjadi pembicara motivasi membuat Bong memutuskan berhenti kuliah di Jurusan Desain Grafis Universitas Bina Nusantara. Setelah tidak kuliah, satu-satunya pilihan Bong adalah menjadi motivator yang sukses.
Meski dia sudah berbicara di hadapan 15 ribu orang per tahun, mulai mahasiswa, ibu rumah tangga, dosen, ahli hukum, dokter, pengusaha, hingga CEO, Bong menyebut dirinya sebagai pribadi yang tertutup. “Saya tidak mudah akrab,” katanya. Bong juga mengenali dirinya sebagai orang yang lambat bertindak. “Saya menuntut sempurna jadi kerap lama berpikir.”
Figur Bong yang baik, kariernya menanjak, dan wajah tampannya kerap mengundang lawan jenis menggodanya. “Ada yang kirim pesan,” katanya. Namun hatinya kadung tertambat pada satu perempuan yang menemaninya membangun usaha dari awal hingga sekarang. Ia berjanji setia. “Kalau yang lain belum tentu mau sama saya ketika masih susah,” ujarnya tersenyum.
Senin, 07 Februari 2011
Lemparkan Dadu-mu
Ular-Tangga, permainan semasa kita kecil, adalah contoh yang bagus tentang permainan nasib manusia. Ada petak-petak yang harus dilewati. Ada tangga yang akan membawa kita naik ke petak yang lebih tinggi. Ada Ular yang akan membuat kita turun ke petak di bawahnya.
Kita hidup. Dan sedang bermain dengan banyak papan Ular-Tangga. Ada papan yang bernama kuliah. Ada papan yang bernama karir. Suka atau tidak dengan permainan yang sedang dijalaninya, setiap orang harus melangkah. Atau ia terus saja ada di petak itu. Suka tak suka, setiap orang harus mengocok dan melempar dadunya. Dan sebatas itulah ikhtiar manusia: melempar dadu (dan memprediksi hasilnya dengan teori peluang). Hasil akhirnya, berapa jumlahan yang keluar, adalah mutlak kuasa Tuhan. Apakah Ular yang akan kita temui, ataukah Tangga, Allah-lah yang mengatur. Dan disitulah nasib. Kuasa kita hanyalah sebatas melempar dadu.
Malangnya, ada juga manusia yang enggan melempar dadu dan menyangka bahwa itulah nasibnya. Bahwa di situlah nasibnya, di petak itu. Mereka yang malang itu, terus saja ada di sana. Menerima keadaan sebagai Nasib, tanpa pernah melempar dadu.
Mereka yang takut melempar dadu, takkan pernah beranjak ke mana-mana. Mereka yang enggan melempar dadu, takkan pernah menyelesaikan permainannya.
Setiap kali menemui Ular, lemparkan dadumu kembali. Optimislah bahwa di antara sekian lemparan, kau akan menemukan Tangga. Beda antara orang yang optimis dan pesimis bila keduanya sama-sama gagal, Si Pesimis menemukan kekecewaan dan Sang Optimis mendapatkan harapan.
Perlu kita ketahui dan sadari, bahwa Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena didalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil
Minggu, 06 Februari 2011
CAMBIASSO HENTIKAN PERLAWANAN ROMA
Inter Milan mulai mengancam dua rival di atasnya, AC Milan dan Napoli.
Inter Milan bermain luar biasa. Namun AS Roma juga pantas mendapat pujian. Mereka menunjukkan perlawanan tanpa pernah menyerah.
Hanya, Inter memang tengah mencapai performa terbaik. Mereka juga membuktikan pantas untuk diwaspadai AC Milan dan Napoli. Dalam big match di Stadion Giuseppe Meazza, Senin (7/2) dinihari WIB, Inter membungkam Roma 5-3.
Kemenangan itu menjadikan Inter naik ke peringkat tiga dengan menggeser Lazio. Kini, Inter mengantungi poin 44. Terpaut lima poin dari Milan yang menduduki puncak klasemen. Sementara, Napoli yang berada di posisi dua memiliki poin 46. Namun, Inter diuntungkan karena masih menyimpan satu pertandingan tunda.
Meski meraih kemenangan, namun Inter harus bekerja keras karena Roma menunjukkan perlawanan yang luar biasa. Bahkan dalam posisi tertinggal 4-1, Roma tak menyerah.
Tim asuhan Claudio Ranieri mampu mengejar ketinggalannya menjadi 4-3 saat pertandingan masih menyisakan sepuluh menit lagi. Namun, gol Esteban Cambiasso di menit ke-89 menghentikan perlawanan Roma.
Gol tersebut memastikan kemenangan Inter. Apalagi, Roma sudah menyerah setelah gol dari gelandang asal Argentina ini.
Inter langsung menggebrak. Hasilnya dalam tempo tiga menit, tuan rumah sudah langsung unggul melalui gelandang Wesley Sneijder. Dia memanfaatkan umpan sundulan dari Maicon. Tendangan voli Sneijder mengarah ke sudut gawang tanpa bisa dijangkau kiper Julio Sergio.
Hanya, Roma tidak butuh waktu lama untuk bangkit dan mengejar ketinggalan. Tim tamu menyamakan kedudukan menjadi 1-1 saat Fabio Simplicio mencetak gol di menit ke-13. Gol itu berawal dari kerjasama Mirko Vucinic dengan Marco Cassetti yang ikut naik membantu serangan. Cassetti kemudian melepaskan umpan kepada Simplicio yang menyelesaikan peluang tersebut dengan manis.
Bahkan Roma nyaris unggul saat Jeremy Menez menyambut bola dari striker Marco Boriello. Namun, tendangan Jimenez masih bisa diselamatkan oleh kiper Julio Cesar.
Pertandingan kemudian berjalan imbang. kedua tim secara bergantian melakukan tekanan. Kiper Julio Cesar harus bekerja keras menghadapi serangan Roma.
Namun Inter akhirnya menutup babak pertama dengan keunggulan 2-1. Inter unggul melalui Gol Samuel Eto'o di menit ke-35.
Di babak kedua, permainan menjadi lebih cepat. Inter lebih mendominasi meski Roma juga beberapa kali melakukan ancaman terhadap pertahanan tuan rumah.
Inter sempat memperbesar keunggulan saat striker Giampolo Pazzini mencetak gol setelah menerima umpan dari Cambiasso. Namun, golnya dianulir.
Gol ketiga Inter akhirnya tercipta saat Eto'o menyelesaikan eksekusi penalti di menit ke-63. Inter mendapat penalti setelah bek Nicolas Burdisso menjatuhkan Pazzini di kotak penalti. Akibatnya, mantan bek Inter ini diusir dan wasit menghadiahkan penalti untuk tuan rumah.
Inter tak terbendung saat Thiago Motta membobol gawang Roma di menit ke-71. Sundulannya dari jarak dekat gagal diselamatkan kiper Julio Sergio dan Inter unggul 4-1.
Tertinggal tiga gol dan bermain dengan sepuluh orang tak membuat Roma menyerah. Gawang mereka tetap mendapat tekanan karena Diego Milito berkali-kali mengancam pertahanan Roma.
Namun, Roma mampu memanfaatkan keuntungan. Vucinic berhasil meneruskan tendangan bebas dari Daniele de Rossi di menit ke-75. Situasi makin panas karena pemain Roma Simone Loria berhasil memperkecil ketinggalan timnya di menit ke-81
Gol itu menjadikan semangat pemain Roma pulih. Sayangnya, semangat mereka langsung runtuh saat Cambiasso membobol gawang Julio Sergio di menit terakhir. Dan, pupus sudah perlawanan Roma. Posisi mereka pun makin turun.
Inter Milan bermain luar biasa. Namun AS Roma juga pantas mendapat pujian. Mereka menunjukkan perlawanan tanpa pernah menyerah.
Hanya, Inter memang tengah mencapai performa terbaik. Mereka juga membuktikan pantas untuk diwaspadai AC Milan dan Napoli. Dalam big match di Stadion Giuseppe Meazza, Senin (7/2) dinihari WIB, Inter membungkam Roma 5-3.
Kemenangan itu menjadikan Inter naik ke peringkat tiga dengan menggeser Lazio. Kini, Inter mengantungi poin 44. Terpaut lima poin dari Milan yang menduduki puncak klasemen. Sementara, Napoli yang berada di posisi dua memiliki poin 46. Namun, Inter diuntungkan karena masih menyimpan satu pertandingan tunda.
Meski meraih kemenangan, namun Inter harus bekerja keras karena Roma menunjukkan perlawanan yang luar biasa. Bahkan dalam posisi tertinggal 4-1, Roma tak menyerah.
Tim asuhan Claudio Ranieri mampu mengejar ketinggalannya menjadi 4-3 saat pertandingan masih menyisakan sepuluh menit lagi. Namun, gol Esteban Cambiasso di menit ke-89 menghentikan perlawanan Roma.
Gol tersebut memastikan kemenangan Inter. Apalagi, Roma sudah menyerah setelah gol dari gelandang asal Argentina ini.
Inter langsung menggebrak. Hasilnya dalam tempo tiga menit, tuan rumah sudah langsung unggul melalui gelandang Wesley Sneijder. Dia memanfaatkan umpan sundulan dari Maicon. Tendangan voli Sneijder mengarah ke sudut gawang tanpa bisa dijangkau kiper Julio Sergio.
Hanya, Roma tidak butuh waktu lama untuk bangkit dan mengejar ketinggalan. Tim tamu menyamakan kedudukan menjadi 1-1 saat Fabio Simplicio mencetak gol di menit ke-13. Gol itu berawal dari kerjasama Mirko Vucinic dengan Marco Cassetti yang ikut naik membantu serangan. Cassetti kemudian melepaskan umpan kepada Simplicio yang menyelesaikan peluang tersebut dengan manis.
Bahkan Roma nyaris unggul saat Jeremy Menez menyambut bola dari striker Marco Boriello. Namun, tendangan Jimenez masih bisa diselamatkan oleh kiper Julio Cesar.
Pertandingan kemudian berjalan imbang. kedua tim secara bergantian melakukan tekanan. Kiper Julio Cesar harus bekerja keras menghadapi serangan Roma.
Namun Inter akhirnya menutup babak pertama dengan keunggulan 2-1. Inter unggul melalui Gol Samuel Eto'o di menit ke-35.
Di babak kedua, permainan menjadi lebih cepat. Inter lebih mendominasi meski Roma juga beberapa kali melakukan ancaman terhadap pertahanan tuan rumah.
Inter sempat memperbesar keunggulan saat striker Giampolo Pazzini mencetak gol setelah menerima umpan dari Cambiasso. Namun, golnya dianulir.
Gol ketiga Inter akhirnya tercipta saat Eto'o menyelesaikan eksekusi penalti di menit ke-63. Inter mendapat penalti setelah bek Nicolas Burdisso menjatuhkan Pazzini di kotak penalti. Akibatnya, mantan bek Inter ini diusir dan wasit menghadiahkan penalti untuk tuan rumah.
Inter tak terbendung saat Thiago Motta membobol gawang Roma di menit ke-71. Sundulannya dari jarak dekat gagal diselamatkan kiper Julio Sergio dan Inter unggul 4-1.
Tertinggal tiga gol dan bermain dengan sepuluh orang tak membuat Roma menyerah. Gawang mereka tetap mendapat tekanan karena Diego Milito berkali-kali mengancam pertahanan Roma.
Namun, Roma mampu memanfaatkan keuntungan. Vucinic berhasil meneruskan tendangan bebas dari Daniele de Rossi di menit ke-75. Situasi makin panas karena pemain Roma Simone Loria berhasil memperkecil ketinggalan timnya di menit ke-81
Gol itu menjadikan semangat pemain Roma pulih. Sayangnya, semangat mereka langsung runtuh saat Cambiasso membobol gawang Julio Sergio di menit terakhir. Dan, pupus sudah perlawanan Roma. Posisi mereka pun makin turun.
Sabtu, 05 Februari 2011
Petr Čech
Personal information
Full name : Petr Čech
Date of birth : 20 May 1982
Place of birth : Plzeň, Czechoslovakia
Height : 1.97 m (6 ft 5 1⁄2 in)
Playing position : Goalkeeper
Current club : Chelsea
Number : 1
Youth career :
1989–1999 Plzeň
Senior career :
1999–2001 Blšany
2001–2002 Sparta Prague
2002–2004 Rennes
2004– Chelsea
National team :
2001–2002 Czech Republic U-21
2002– Czech Republic
Club career
Early career
Born in Plzeň, Czechoslovakia, now Czech Republic, Čech began playing football at age seven in his native town. As a young boy, he played for Viktoria Plzen and he first began as a striker due to him being tall at an early age. Čech began as a target keeper in training, goalkeeper coaches took letter of his abilities. By age 14, Čech grew from 180 centimetre to 196 cm. This drew him attention, not because of his height, but his talent as a goalkeeper. Čech was transferred to Blšany and prepared his debut for the team on October thirty, 1999. Čech became a regular for Blšany and courted lots of attention. Čech thereafter shifted to Sparta Prague at the age of 19.
Rennes
Čech did not win the league name in the spring of 2002 with Sparta Prague, but he did experience success elsewhere. At the under-21 European Championships in June, Čech led the Czechs to the final. Here, the Plzeň native excelled. He let in merely one of the punishment kicks as his team won the tournament. The hero of the final suit of the tournament could not exodus the attention of the scouts of foreign clubs. Interest from England (e.g. Arsenal) was spoken approximate a lot, however, the sell plummeted through founded on the matter of the laboring permit. In July, 2002 Čech shifted to French club Stade Rennes.
In his pair seasons in France, Čech became customary to the pressure exerted on foreign players, notably goalkeepers. He executed admirably in a figure of difficult matches. During his first season in the team, Rennes were stranded at the bottom of the desk and fled relegation in the final around with a win across Montpellier.
Chelsea
It was Claudio Ranieri, thereafter administrator of Chelsea, whoever decided that Čech was his option as understudy to Carlo Cudicini.[7] After the original bid was rejected,[8] Rennes acknowledged a second in February. Čech matched a summer shift to Chelsea for £7 million, signing a five-year contract, to commence in July 2004. This transfer meant that he had price more than every other Chelsea goalkeeper in history placed together. Čech’s transfer from Rennes was one of those approximate which the Stevens question news in June 2007 conveyed anxieties because of the shortage of co-operation from officers Pini Zahavi and Barry Silkman.
2004/05 season
Soon afterwards Carlo Cudicini arrived at Chelsea, from Castel di Sangro Calcio, he was deployed as Chelsea's first choice. However, Cudicini suffered a pre-season elbow injury that permitted Mourinho to promote Čech into the beginning spot. And since thereafter, Čech has retained beginning dot from his first fresh season. He retained a wash page in his Premier League debut in a 1–0 victory across Manchester United.
On 5 March 2005, Čech set a fresh Premiership record of 1,025 minutes without letting in a goal. This record has since been breached via Manchester United's Edwin van der Sar. He eventually granted from Leon McKenzie of Norwich City, afterwards retaining a wash page in the league since 12 December 2004 as shortly as Thierry Henry scored for Arsenal. Čech was given a special award via the Premier League for the fresh record, and he was also awarded the Golden Gloves at the end of the 2004–05 season for retaining a record 25 wash sheets. Chelsea stored the Premiership name in 2005—06, with Čech playing in all but pair sport in the League. The team granted merely 15 targets in the complete League season, also a record.
2005/06 season
Cech relished another season of success in 2005/06 as Chelsea successfully guarded their Premier League crown, with Chelsea conceding merely 22 times during the League season. He gestured a fresh contract on 1 February 2006 which shall retain him at the club until 2010.
2006/07 season
Čech underwent incidental shoulder medicine on 27 June 2006 to repair a long-standing injury stemming from the earlier season.
Čech returned to movement on 27 August 2006.
Head injury
On 14 October 2006, Čech and Reading midfielder Stephen Hunt both contested for the ball indoor Chelsea's punishment field in the first tiny of a league suit at the Madejski Stadium. Hunt's knee hammered Čech's chief, retiring the keeper dazed. Čech was removed off afterwards a figure of minutes and displaced via Carlo Cudicini, whoever himself was knocked unconscious subsequent in the same game. Captain John Terry ended upward headed in target for the remaining minutes. Čech underwent medicine for a depressed skull fracture. Initially unaware of the seriousness of the injury, the nurses subsequent reported that it almost price Čech his life, and as a effect of the collision, he suffered intense headaches and was warned via his nurse that returning too early could be fatal. Speaking soon afterwards, Čech’s dad asserted his son would be out of football for a year.
"The contest was a disgrace. He is lucky to motionless be alive."
He also criticised the South Central Ambulance Service NHS Trust and suit judge Mike Riley. Also because Čech is a triplet his skull is weaker than that of the average person. Much media remark chased, several consenting with, several denouncing Mourinho's claims. A figure of commentators, encompassing prevailing and prior goalkeepers, saw the occurrence as underscoring the lack for greater defence for keepers.
Following hospital coverage, Čech returned home on 24 October 2006 and in the chasing week he came rear to a term of lamp training. However, Chelsea broadcast that the goalkeeper would be out for three months, in queue with medical advice on the time lacked for accomplish recovery from the skull fracture. In an interview on Chelsea television, Čech said that he had no memory of the injury itself.
Return
Petr Cech
Čech prepared his comeback against Liverpool on twenty January 2007, which they finally no where 2–0, fraying a rugby style headguard, which he lasted to fray in every game. The headguard was prepared via Canterbury of New Zealand, a corporation that specializes in protective rugby equipment, and includes extra plastic polymer foam defence to wrap the fields of his skull diminished via the collision. Čech’s exert of the scrum cap caused original friction with Chelsea’s clothes factory Adidas, which were not glad via a Chelsea actor clearly advertising for another corporation, but the controversy rapidly burst across as shortly as the competitor's logo was removed.
In spite of the substantial time lapsed since the injury, Čech has lasted to fray the scrum cap owing to the weaker than regular bone framework in his skull.
Although Chelsea no where Čech's comeback suit 2–0, he thereafter went roughly 810 minutes of Premiership play without conceding a goal. On 11 April 2007, Čech was awarded the FA Premier League Player of the Month award for the first time in his career in recognition of the eight consecutive league wash pages he had kept. He also was the first goalkeeper to receive the award since Tim Flowers in 2000. This run was ended during a 4–1 Chelsea victory across West Ham United on 18 April 2007 as shortly as Carlos Tévez scored against him.
Čech also retained a wash page for Chelsea in the 2007 FA Cup Final against Manchester United. He shared with United’s Edwin van der Sar the honour of being the first goalkeepers to retain a wash page across 90 minutes in a competitive fixture, but became the first goalkeeper to end a competitive game unbeaten, at the fresh Wembley Stadium, as Chelsea defeat United 1–0 to win the FA Cup.
2007/08 season
Čech’s 2007–08 season obtained off to a harsh begin with Chelsea conceding two targets against Birmingham City on the first suit of the season. Despite the setback, Chelsea handled to win 3–2 and set an English record for unbeaten league suits at home.
On seven November 2007, Čech suffered an ankle injury in the 0–0 Champions League Match at Schalke 04. This sidelined him for a minority weeks ago poorly bruising his hip against Blackburn on 23 December 2007.
Chelsea suffered their first main blow as shortly as they no where the Carling Cup Final to Tottenham Hotspur, with Čech parrying the ball onto Jonathan Woodgate’s chief for the winner. He played in a figure of sport until the eve of Chelsea’s home Champions League tie with Greek heroes Olympiacos as shortly as he injured his ankle in training. In the weeks that chased, Čech missed pivotal sport of Chelsea’s campaign encompassing the Arsenal London derby and the Champions League quarter-final first and second legs.
On seven April 2008 it was broadcast that Čech had undergone emergency medicine on his chin and lips chasing an unintended collision with Tal Ben Haim during training. He had 50 sews placed on his mouth and chin, having missed 22 sport this season due to injuries, Čech said he hoped to obtain rear on the field within a minority weeks. He returned to movement on 14 April, in a home suit against Wigan, which Chelsea drew 1–1. He emerged in the Champions league final against Manchester United, where Chelsea no where on penalties.
2008/09 season
Čech training with Chelsea
Čech began off the 2008–09 season in spectacular model, with Chelsea conceding merely seven targets in 17 sport, retaining 11 wash sheets; ten of which with Čech in goal. In November 2008, Chelsea defeat Sunderland 5–0 at Stamford Bridge, a effect that gave Čech a hundred of Chelsea wash sheets.[38] Čech retained a wash page in a 1–0 victory across Juventus in the Champions League on his 200th arrival for the club, and he also starred in a vital 1–0 victory away at Villa Park against Aston Villa, earning good saves from Gabriel Agbonlahor and Gareth Barry to second Chelsea third in the Premier League. The chasing week, Čech facilitated Chelsea go second in the desk afterwards his side defeat Wigan at Stamford Bridge 2–1, with Čech storing from Paul Scharner in the first half. Successive wash pages via Čech in Chelsea's wins against Portsmouth and Coventry have perceived his side consolidate their location in the Premier League whilst underway into the FA Cup semi-finals. Čech also prepared vital saves from Dirk Kuyt and Xabi Alonso as Chelsea defeat Liverpool 3–1 at Anfield in the first leg of their Champions League quarter-finals.
In a vital Premier League game in April 2009, with Chelsea seemingly sailing against Bolton Wanderers 4–0, administrator Guus Hiddink took off both Didier Drogba and Frank Lampard merely for Bolton to score three late targets which doubted the Chelsea protection, and in specified Čech. However Čech answered as shortly as he saved a punishment from Mark Noble in Chelsea's 1–0 win at the Boleyn Ground against West Ham. He also retained a wash page in the following game against Barcelona during the Champions League semifinal first leg match. Following a 3–2 win against Sunderland at the Stadium of Light, Čech and Chelsea done the season with the joint-tightest protection in the Premier League along with Manchester United; conceding just 24 targets across the course of the season. Despite conceding the fastest target in FA Cup Final history, Čech facilitated Chelsea's 2009 FA Cup Final victory across Everton. Chelsea won 2–1, earning the Czech his seventh trophy at the club.
Former bus Luiz Felipe Scolari blamed Čech, Michael Ballack and Drogba of causing his sacking, phrase that they "did not acknowledge my training procedures or my demands". Scolari also asserted that it stemmed from a row between him and the Czech goalkeeper across the option of goalkeeper coach. The latter refused the assertions phrase that he was "disappointed with [Scolari] because never in my life have I had a physical goalkeeping coach".
2009/10 season
Čech originated the 09–10 season in winning model with Chelsea, defeating Manchester United in the Community Shield final at Wembley. With the game tied 2–2 at the end of regular time, Čech saved consequences from Ryan Giggs and Patrice Evra. Čech retained target for Chelsea in the six suit winning run that unlatched their season and placed them on lid of the Premier League. However,on September 26, 2009, Čech was sent off and at the same time granted the winning punishment for tripping Wigan Athletic forth Hugo Rodallega, in the defeat that snapped the run and granted the lead in the league to Manchester United for the time being. On 27 February 2010, Cech picked upward an injury in the Champions League clash against Inter. On the 13th of April against Bolton, Čech retained his 100th wash page for Chelsea. Since thereafter Petr has shown a lot pivotal and concrete plays in the final minority sport remaining in the Premier League. He prepared a heavenly save against Wigan's Victor Moses that potted the Golden Glove award for Petr Cech this season. He concluded his season via storing a punishment against Portsmouth in the FA Cup final, ensuring that the Blues went on to retain the Cup and achieve their first servant double.
2010/11 season
Čech in season 2010/2011
Cech suffered a calf injury in Chelsea's pre-season, a recurrence of an injury suffered against Inter Milan the earlier season. A spokesman for Chelsea confirmed: "Petr shall be out for circle a month afterwards scans illustrated a rip in his right calf. He is expected to miss the relax of the pre-season campaign." Cech subsequently missed the chasing three weeks, encompassing Chelsea's 3-1 loss to Manchester United in the Community Shield. He returned on August 14 and retained a wash page as Chelsea defeat West Bromwich Albion 6-0, which the Czech earning a good save from Graham Dorrans' deflected effort. Cech thereafter prepared a series of excellent saves from Andrei Arshavin in a 2-0 win across Arsenal ,[46] ago retaining a wash page in a 0-0 draw at Villa Park. So far this season, Cech has retained eight Premier League wash pages in thirteen suits, having granted merely eight targets this season. The eight targets granted were against West Ham United in a 3-1 win, Manchester City in a 0-1 loss, against Blackburn Rovers in a 2-1 win, and against Liverpool F.C in a 0-2 loss, all being away games. He granted three times in a 3-0 embarrasing home defeat to Sunderland. After that, they no where to Birmingham City 1-0 and motionless could not keep wash page for his final minority matches. Čech handled to recover from conceding a lot targets and losing suits as shortly as Chelsea came rear to win a UEFA Champion's League suit against MSK Zilina 2-1. Still Petr Čech couldn't extend to retain a wash page conceding in Chelsea's 1-1 draws against Newcastle United and Everton at away and home respectively. One of the conferring points that came out of Everton's draw with Chelsea was the occurrence involving Tim Cahill and Cech. The pair players both went for a 50-50 in the box, with Cech fearlessly placing his chief where it hurts like all good goalkeepers are trained to do. His goalkeeping reactions were praised via a lot allowing for four years ago a clash with Stephen Hunt retired Cech with a depressed fracture of his skull and to this day, remains to play in a protective leather cap. The consequence this time circle was much more favourable, with a slim cut above Cech's eye the merely injury afterwards the Czech Republic goalkeeper defeat Tim Cahill to the ball via millimetres. Despite Cahill being well within his rights to go for the ball, several Chelsea fans have been quick to criticise Cahill and so Everton administrator David Moyes has leaped to Cahill's defence.
'Just because Cech has a medical history, that doesn't average my actor can't go for the ball. If he hadn't gone for it, I'd be wringing his neck.'
International career
Čech originated his career in the U15s, laboring his way upward each age team horizontal ago earning his senior debut in February 2002. He first attended prominence as a twenty-year-old at the 2002 U-21 European Championships as shortly as his punishment shoot-out heroics in the final against France earned the Czech Republic their first name at youth level. He was fraction of the Czech Euro 2004 team. Some spectacular saves facilitated his team progress as far as the semi-finals, where they no where to eventual winners Greece on the silver target rule. He was dubbed in the all-star team as best goalkeeper at the tournament.
The Czech Republic qualified for the 2006 World Cup, held in Germany, and were placed in Group E, alongside Ghana, Italy and the United States. The Czech Republic was placed third via the end of the team phases, and with one win against the United States, winning via 3–0, and pair losses against Ghana and Italy, the score 2–0 in both sport, the Czech Republic did not improve to the second round.
On 17 October 2007, Čech was captain of the Czech Republic team for their Euro 2008 Group D qualifier against Germany. He retained a wash page and the Czechs defeated Germany 3–0 away to reserve their position for the finals in Austria and Switzerland. In the final team game of the final tournament, Čech was defeated three times in the final 15 minutes as Turkey overcame a two-goal deficit to knock the Czechs out. Čech had a traverse slip through his hands, approving Nihat to score the second (and equalizing) goal.
After the blunder against Turkey, he took full accountability for his team's exit from the UEFA Euro 2008 and currently assessed retiring but thereafter he was conferred out of it and he stated that he hopes to retain on behalf of the Czech Republic "for a lot years to come" and also stated that he hopes to repay his blunder and confidence that all the Czech Republic's players have in him
FRANK JAMES LAMPARD
Name: Frank James Lampard
Club: Chelsea FC (Eng)
Shirt Number: 8
Personal
Position: Attacking central midfielder
Nationality: England
Date of Birth: 20/06/1978
Place of Birth: Romford, Essex, England
Height: 185 cm
Weight: 75 kg
Contract
Date Signed: 14/06/2001
Contract Expiry: 06/2009
Player Transfers
Date From Club To Club Fee
14/06/2001 West Ham United (Eng) Chelsea (Eng) £11m
06/10/1995 West Ham United (Eng) Swansea City (Wal/Eng) Loan
01/07/1995 Youth West Ham United (Eng) Free
PROFIL dan SEJARAH CHELSEA
Berdiri: 1905
Alamat: Stamford Bridge, London SW6 1HS England
Telepon: 0870 300 1212
Faksimile: 020 7381 4831
Surat Elektronik: fitc@chelseafc.com
Laman Resmi: http://www.chelseafc.com
Ketua: Bruce Buck
Direktur: Ron Gourlay & Eugene Tenenbaum
Stadion: Stamford Bridge
Sejarah Singkat
Sukses Chelsea diraih melalui jalan panjang. Sejak didirikan pada 1905 di sebuah pub bernama "The Rising Sun", The Blues baru menikmati sukses sebagai klub pada pertengahan 1950-an. Tak tanggung-tanggung, gelar pertama yang digaet adalah gelar liga yang sangat bergengsi. Saat itu, Chelsea ditangani manajer Ted Drake.
Setelahnya, Chelsea mengalami pasang surut. Rencana pembenahan Stamford Bridge malah membuat kondisi finansial klub terancam. Tingkah laku hooligan malah memperparah suasana. Pada 1982, Chelsea diselamatkan Ken Bates yang membeli kepemilikan klub seharga £1 saja.
Periode sukses berikutnya pun muncul. Tidak sepenuhnya, tapi era kepemilikan Bates membuka pintu bagi periode Roman Abramovich hingga saat ini. Di bawah penanganan Bates, wajah Chelsea berubah dari klub tradisional menjadi klub kosmopolitan.
Chelsea tak segan-segan mengucurkan dana besar untuk mendatangkan sederetan pemain ternama. Glenn Hoddle, Dennis Wise, Ruud Gullit, Gianluca Vialli, atau Roberto di Matteo, adalah serangkaian nama yang mengawali era kosmopolitan Chelsea. Setelah dibeli Abramovic, wajah Chelsea pun tak lagi sama. Bahkan mungkin sangat jauh dari bayangan para pendirinya di "The Rising Sun" lebih dari satu abad silam.
Catatan Prestasi
4 kali juara Liga Primer / Divisi Satu lama (1954/55, 2004/05, 2005/06, 2009/10)
6 kali juara Piala FA (1969/70, 1996/97, 1999/00, 2006/07, 2008/09, 2009/10)
2 kali juara Liga Championship / Divisi Dua lama (1983/84, 1988/89)
4 kali juara Piala Liga (1964/65, 1997/98, 2004/05, 2006/07)
4 kali juara Community Shield (1955, 2000, 2005, 2009)
2 kali juara Piala Winners (1970/71, 1997/98)
1 kali juara Piala Super Eropa (1998)
TIPS MEMUJI dan DIPUJI
Di antara sekian banyak fenomena umum yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari,adalah fenomena pujian. Secara garis besar, pujian bisa diklasifikasikan dalam tiga bentuk: pujian yang diucapkan untuk menjilat, pujian yang sifatnya hanya basa-basi belaka, serta pujian yang diucapkan sebagaiekspresi kekaguman.
Bila disikapi secara sehat dan proporsional, pujian bisa menjadi hal positif yang dapat memotivasi kita agar terus meningkatkan diri. Namun,kenyataannya, pujian justru lebih sering membuat kita lupa daratan, lepas kontrol, dan seterusnya. Semakin sering orang lain memuji kita, maka semakin besar potensi kita untuk terlena, besar kepala, serta hilang kendali diri.
Agar dapat menyikapi pujian secara sehat, ada tiga kiat yang sangat menarik untuk kita teladani.
PERTAMA, selalu mawas diri supaya tidak sampai terbuai oleh pujian yang dikatakan orang. Pujian adalah perkataan orang lain yang potensial menjerumuskan kita. Ibaratnya, orang lain yang mengupas nangka, tapi kita yang kena getahnya. Orang lain yang melontarkan ucapan, tapi malah kita yang terjerumus menjadi besar kepala dan lepas kontrol.
KEDUA, menyadari hakikat pujian sebagai topeng dari sisi gelap kita yang tidak diketahui orang lain. Karena, sebenarnya, setiap manusia pasti memiliki sisi gelap. Dan ketika ada seseorang yang memuji kita, maka itu lebih karena faktor ketidaktahuan dia akan belang serta sisi gelap kita.
Dan kiat yang KETIGA, kalaupun sisi baik yang dikatakan orang lain tentang kita adalah benar adanya, Kita diajarkan agar memohon kepada Tuha untuk dijadikan lebih baik dari apa yang tampak di mata orang lain.
Lalu bagaimana mengemas pujian yang baik?. Intinya, jangan sampai pujian yang terkadang secara spontan keluar dari bibir kita, malah menjerumuskan dan merusak kepribadian sahabat yang kita puji.
Beberapa tips sederhanya adalah sebagai berikut :
PERTAMA, tidak memuji di hadapan orang yang bersangkutan secara langsung, tapi di depan orang-orang lain dengan tujuan memotivasi mereka.
KEDUA, Lontarkanlah pujian dalan bentuk doa.
Contoh: “Ya Tuhan-ku, jadikanlah dia orang sholeh dan ahli ilmu”.
Pujian yang dilontarkan orang lain terhadap diri kita, merupakan salah satu tantangan berat yang dapat merusak kepribadian kita. Pujian dapat membunuh karakter seseorang, tanpa ia sadari.
Namun ketika pujian sudah menjadi fenomena umum ditengah-tengah masyarakat kita, maka yang paling penting adalah bagaimana menyikapi setiap pujian secara sehat agar tidak sampai lupa daratan dan lepas kontrol;pengapresiasi setiap pujian hanya sebagai topeng dari sisi gelap kita yang tidak diketahui orang lain; serta terus berdoa kepada
Tuhan agar dijadikan lebih baik dari apa yang tampak di mata orang.
Selain itu, yang tidak kalah pentingnya, kalaupun perlu memuji seseorang adalah bagaimana bisa mengemas pujian secara sehat. Toh memuji tidak mesti dengan kata-kata, tapi akan lebih berarti bila diekspresikan lewat dukungan dan doa.
Bila disikapi secara sehat dan proporsional, pujian bisa menjadi hal positif yang dapat memotivasi kita agar terus meningkatkan diri. Namun,kenyataannya, pujian justru lebih sering membuat kita lupa daratan, lepas kontrol, dan seterusnya. Semakin sering orang lain memuji kita, maka semakin besar potensi kita untuk terlena, besar kepala, serta hilang kendali diri.
Agar dapat menyikapi pujian secara sehat, ada tiga kiat yang sangat menarik untuk kita teladani.
PERTAMA, selalu mawas diri supaya tidak sampai terbuai oleh pujian yang dikatakan orang. Pujian adalah perkataan orang lain yang potensial menjerumuskan kita. Ibaratnya, orang lain yang mengupas nangka, tapi kita yang kena getahnya. Orang lain yang melontarkan ucapan, tapi malah kita yang terjerumus menjadi besar kepala dan lepas kontrol.
KEDUA, menyadari hakikat pujian sebagai topeng dari sisi gelap kita yang tidak diketahui orang lain. Karena, sebenarnya, setiap manusia pasti memiliki sisi gelap. Dan ketika ada seseorang yang memuji kita, maka itu lebih karena faktor ketidaktahuan dia akan belang serta sisi gelap kita.
Dan kiat yang KETIGA, kalaupun sisi baik yang dikatakan orang lain tentang kita adalah benar adanya, Kita diajarkan agar memohon kepada Tuha untuk dijadikan lebih baik dari apa yang tampak di mata orang lain.
Lalu bagaimana mengemas pujian yang baik?. Intinya, jangan sampai pujian yang terkadang secara spontan keluar dari bibir kita, malah menjerumuskan dan merusak kepribadian sahabat yang kita puji.
Beberapa tips sederhanya adalah sebagai berikut :
PERTAMA, tidak memuji di hadapan orang yang bersangkutan secara langsung, tapi di depan orang-orang lain dengan tujuan memotivasi mereka.
KEDUA, Lontarkanlah pujian dalan bentuk doa.
Contoh: “Ya Tuhan-ku, jadikanlah dia orang sholeh dan ahli ilmu”.
Pujian yang dilontarkan orang lain terhadap diri kita, merupakan salah satu tantangan berat yang dapat merusak kepribadian kita. Pujian dapat membunuh karakter seseorang, tanpa ia sadari.
Namun ketika pujian sudah menjadi fenomena umum ditengah-tengah masyarakat kita, maka yang paling penting adalah bagaimana menyikapi setiap pujian secara sehat agar tidak sampai lupa daratan dan lepas kontrol;pengapresiasi setiap pujian hanya sebagai topeng dari sisi gelap kita yang tidak diketahui orang lain; serta terus berdoa kepada
Tuhan agar dijadikan lebih baik dari apa yang tampak di mata orang.
Selain itu, yang tidak kalah pentingnya, kalaupun perlu memuji seseorang adalah bagaimana bisa mengemas pujian secara sehat. Toh memuji tidak mesti dengan kata-kata, tapi akan lebih berarti bila diekspresikan lewat dukungan dan doa.
Jumat, 04 Februari 2011
Daftar Pemain & Pelatih CHELSEA
1 Petr Cech Kiper
22 Ross Turnbull Kiper
40 Henrique Hilario Kiper
2 Branislav Ivanovic Bek
3 Ashley Cole Bek
17 José Bosingwa Bek
19 Paulo Ferreira Bek
23 David Luiz Bek
26 John Terry Bek
33 Alex Bek
43 Jeffrey Bruma Bek
- Billy Clifford Bek
5 Michael Essien Gelandang
7 Ramires Gelandang
8 Frank Lampard Gelandang
10 Yossi Shai Benayoun Gelandang
12 Jon Obi Mikel Gelandang
15 Florent Malouda Gelandang
18 Yury Zhirkov Gelandang
46 Jacopo Sala Gelandang
51 Josh McEachran Gelandang
52 Jacob Mellis Gelandang
9 Fernando Torres Striker
11 Didier Drogba Striker
21 Salomon Kalou Striker
39 Nicolas Anelka Striker
45 Fabio Borini Striker
- Carlo Ancelotti Manajer/Pelatih
Drogba, Malouda Siap Dijual Chelsea
Pembelian Torres dan Luiz memaksa Chelsea melakukan cuci gudang.
Chelsea dikabarkan harus menjual lima pemain untuk menutup dana pembelian Fernando Torres dan David Luiz yang mencapai £75 juta pada jendela transfer Januari.
Menurut the Sun, Didier Drogba, Florent Malouda, John Obi Mikel, Jose Bosingwa, dan Yuri Zhirkov dipastikan akan menjadi korban dan akan meninggalkan Stamford Bridge pada akhir musim.
Seorang sumber Chelsea menyatakan, "Ada beberapa nama besar dan pemain bergaji besar yang tampil buruk musim ini. Jika situasi tak membaik, akan ada korban pada musim panas."
Chelsea baru saja mengumumkan kerugian mencapai £70,9 juta, dan mereka sadar tentang peraturan keuangan UEFA baru, yang akan memastikan pengeluaran klub sesuai dengan pendapatan mereka.
Chelsea dikabarkan harus menjual lima pemain untuk menutup dana pembelian Fernando Torres dan David Luiz yang mencapai £75 juta pada jendela transfer Januari.
Menurut the Sun, Didier Drogba, Florent Malouda, John Obi Mikel, Jose Bosingwa, dan Yuri Zhirkov dipastikan akan menjadi korban dan akan meninggalkan Stamford Bridge pada akhir musim.
Seorang sumber Chelsea menyatakan, "Ada beberapa nama besar dan pemain bergaji besar yang tampil buruk musim ini. Jika situasi tak membaik, akan ada korban pada musim panas."
Chelsea baru saja mengumumkan kerugian mencapai £70,9 juta, dan mereka sadar tentang peraturan keuangan UEFA baru, yang akan memastikan pengeluaran klub sesuai dengan pendapatan mereka.
Ku Kendalikan Hati-Ku
Alkisah, seorang lelaki santun duduk di tepi sungai. Ia sudah beberapa lama tidak makan apapun. Lalu sebutir apel yang terbawa arus itu dipungutnya, dan dimakan. Sesaat kebutuhannya terpenuhi. Namun sesaat kemudian hati kecilnya menggugat. “Apel siapa ini? Mengapa aku memakannya tanpa minta izin?”
Lelaki itu menelusur ke hulu, mencari pemilik apel tersebut. Beberapa jauh kemudian ia menemukan pemiliknya. Ia minta tindakannya memakan apel hanyut tanpa izin pemiliknya tersebut dimaafkan. Abdullah, pemilik kebun, itu bersedia memaafkan dengan syarat tertentu. Yakni agar lelaki itu bersedia menikahi putrinya. “Tapi putriku itu buta, lumpuh, dan bisu,” kata Abdullah.
Lelaki itu mengangguk. Ia siap melakukan pekerjaan halal apapun untuk mendapatkan maaf. Hatinya tidak akan pernah tenang sebelum ia mendapatkan maaf itu. Pernikahan pun dilangsungkan. Sang istri, Fatimah, ternyata seorang gadis luar biasa. Cerdas, cantik, dan sama sekali tidak buta, lumpuh dan bisu. “Ia buta dari perbuatan melihat maksiat, lumpuh dari melangkahkan kaki ke tempat-tempat yang tidak benar, serta bisu dari ucapan yang tidak senonoh,” kata Abdullah. Mereka dikaruniai anak saleh yang kemudian menjadi tokoh besar sufi, Syekh Abdulqadir Jaelani.
Apa yang membuat ayah Abdulqadir Jaelani begitu bersusah payah mencari pemilik apel yang hanyut di sungai? Bukankah si pemilik tak merasa kehilangan bila sebutir apel dari kebunnya yang luas jatuh ke sungai. Ia juga akan merasa maklum jika ada yang memungut apel itu, dan kemudian memakannya. Ia tentu tidak akan mempersoalkan seandainya tahu siapa yang memakan apel itu. Apalagi ia sama sekali tidak tahu siapa yang memakan apel itu, bahkan tidak tahu kalau apelnya hanyut di sungai.
Tidak demikian bagi seorang saleh sejati seperti ayah Abdulqadir Jaelani. Sebutir apel, dalam keadaan sangat lapar, sungguh berarti bagi perutnya. Namun hatinya tidak dapat menerima apel tak bertuan itu. Hatinya terus terjaga dalam keadaan jernih. Noda setitik pun yang akan mengotori kejernihan hati akan membangkitkan mekanisme untuk membuang jauh noda itu, dan mengembalikan kejernihan hati seperti semula. Hati itu menggerakkan kakinya untuk melangkah, menggerakkan bibirnya untuk minta maaf, dan menggerakkan seluruh jiwa raganya untuk menerima persyaratan apapun buat mendapatkan maaf itu.
Apa yang sebenarnya ada pada hati itu sehingga mempunyai daya gerak yang begitu hebat?
Tuhan tidaklah memandang rupa seseorang. Tidak pula memandang bentuk seseorang itu. Namun, Tuhan memandang hati orang tersebut.
Lewat hati manusia pula, Tuhan mengungkapkan kehadirannya pada diri seseorang. Lewat hati seseorang dapat merasakan bahwa Tuhan memang “lebih dekat dibanding urat leher sendiri”. Lewat hati, seseorang dapat merasakan hal yang dalam penggambaran sufistik, “dengan mata-Nya ia melihat, dengan telinga-Nya ia mendengar, dengan tangan-Nya ia menyentuh.”
Sachiko Murata, profesor bidang studi agama di Universitas New York, menilai banyak ayat-ayat kitab suci yang membahas mengenai hati sebagai sentralitas pada diri manusia, Secara harfiah, hati itulah yang akan membalik, mengubah, memaju-mundurkan, serta menaik-turunkan manusia. Tidak berlebihan bila hati dipandang sebagai “lokus kebaikan dan kejahatan, maupun kebenaran-kesalahan.”
Hati yang akan mengendalikan seseorang hingga tenteram atau gelisah. Hati yang akan menentukan seseorang sukses atau tidak dalam mengarungi gelombang hidup. Itu yang menjelaskan mengapa para imam sufi tak henti untuk menekankan pentingnya, latihan tanpa akhir untuk mengendalikan hati.
Lelaki itu menelusur ke hulu, mencari pemilik apel tersebut. Beberapa jauh kemudian ia menemukan pemiliknya. Ia minta tindakannya memakan apel hanyut tanpa izin pemiliknya tersebut dimaafkan. Abdullah, pemilik kebun, itu bersedia memaafkan dengan syarat tertentu. Yakni agar lelaki itu bersedia menikahi putrinya. “Tapi putriku itu buta, lumpuh, dan bisu,” kata Abdullah.
Lelaki itu mengangguk. Ia siap melakukan pekerjaan halal apapun untuk mendapatkan maaf. Hatinya tidak akan pernah tenang sebelum ia mendapatkan maaf itu. Pernikahan pun dilangsungkan. Sang istri, Fatimah, ternyata seorang gadis luar biasa. Cerdas, cantik, dan sama sekali tidak buta, lumpuh dan bisu. “Ia buta dari perbuatan melihat maksiat, lumpuh dari melangkahkan kaki ke tempat-tempat yang tidak benar, serta bisu dari ucapan yang tidak senonoh,” kata Abdullah. Mereka dikaruniai anak saleh yang kemudian menjadi tokoh besar sufi, Syekh Abdulqadir Jaelani.
Apa yang membuat ayah Abdulqadir Jaelani begitu bersusah payah mencari pemilik apel yang hanyut di sungai? Bukankah si pemilik tak merasa kehilangan bila sebutir apel dari kebunnya yang luas jatuh ke sungai. Ia juga akan merasa maklum jika ada yang memungut apel itu, dan kemudian memakannya. Ia tentu tidak akan mempersoalkan seandainya tahu siapa yang memakan apel itu. Apalagi ia sama sekali tidak tahu siapa yang memakan apel itu, bahkan tidak tahu kalau apelnya hanyut di sungai.
Tidak demikian bagi seorang saleh sejati seperti ayah Abdulqadir Jaelani. Sebutir apel, dalam keadaan sangat lapar, sungguh berarti bagi perutnya. Namun hatinya tidak dapat menerima apel tak bertuan itu. Hatinya terus terjaga dalam keadaan jernih. Noda setitik pun yang akan mengotori kejernihan hati akan membangkitkan mekanisme untuk membuang jauh noda itu, dan mengembalikan kejernihan hati seperti semula. Hati itu menggerakkan kakinya untuk melangkah, menggerakkan bibirnya untuk minta maaf, dan menggerakkan seluruh jiwa raganya untuk menerima persyaratan apapun buat mendapatkan maaf itu.
Apa yang sebenarnya ada pada hati itu sehingga mempunyai daya gerak yang begitu hebat?
Tuhan tidaklah memandang rupa seseorang. Tidak pula memandang bentuk seseorang itu. Namun, Tuhan memandang hati orang tersebut.
Lewat hati manusia pula, Tuhan mengungkapkan kehadirannya pada diri seseorang. Lewat hati seseorang dapat merasakan bahwa Tuhan memang “lebih dekat dibanding urat leher sendiri”. Lewat hati, seseorang dapat merasakan hal yang dalam penggambaran sufistik, “dengan mata-Nya ia melihat, dengan telinga-Nya ia mendengar, dengan tangan-Nya ia menyentuh.”
Sachiko Murata, profesor bidang studi agama di Universitas New York, menilai banyak ayat-ayat kitab suci yang membahas mengenai hati sebagai sentralitas pada diri manusia, Secara harfiah, hati itulah yang akan membalik, mengubah, memaju-mundurkan, serta menaik-turunkan manusia. Tidak berlebihan bila hati dipandang sebagai “lokus kebaikan dan kejahatan, maupun kebenaran-kesalahan.”
Hati yang akan mengendalikan seseorang hingga tenteram atau gelisah. Hati yang akan menentukan seseorang sukses atau tidak dalam mengarungi gelombang hidup. Itu yang menjelaskan mengapa para imam sufi tak henti untuk menekankan pentingnya, latihan tanpa akhir untuk mengendalikan hati.
Mengapa Berteriak?
Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya;
“Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?”
Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab;
“Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak.”
“Tapi…” sang guru balik bertanya, “lawan bicaranya justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?”
Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu berkata; “Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak.
Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.”
Sang guru masih melanjutkan; “Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?” Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya.
Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban. “Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja
amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan.”
Sang guru masih melanjutkan; “Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat
seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu anda.”
“Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?”
Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab;
“Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak.”
“Tapi…” sang guru balik bertanya, “lawan bicaranya justru berada disampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?”
Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satupun jawaban yang memuaskan. Sang guru lalu berkata; “Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak.
Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi.”
Sang guru masih melanjutkan; “Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apapun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?” Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya.
Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban. “Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja
amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan.”
Sang guru masih melanjutkan; “Ketika anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat
seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu anda.”
Kamis, 03 Februari 2011
CURHAT JADI OBAT
Anda tahu Istilah CURHAT?, Istilah CURHAT atau mencurahkan isi hati biasanya beredar dikalangan remaja-remaja sekarang atau sering kita sebut ABG. Mereka berbagi cerita dengan teman, baik itu cerita suka ataupun duka, bahkan mereka mempublikasikan curahan hatinya agar dapat dibagi kepada orang-orang yang ia kenal. Biasanya mereka mempublikasikannya melalui blog, maupun situs jejaring sosial. Ada juga curhat melalui telepon ‘Premium Call’, siaran radio atau televisi; semua acara ini dikemas sedemikian rupa menjadi acara yang sangat menarik, tetapi menjadi lahan bisnis yang menjanjikan bagi pelaku bisnis ini.
Tapi mencurahkan isi hati bukan hanya milik para remaja, orang dewasapun sering melakukannya untuk menghilangkan unek-unek yang ada dihatinya atau berbagi kesenangan dengan sahabatnya. Ada sebuah kisah menarik mengenai CURHAT ini; Di Amerika ada seorang penulis buku yang sedang mengalami stress berat dan merasa dia kehilangan ide-ide segar untuk dijadikan bahan tulisannya. Kemudian ia menanyakan pada rekannya mengenai masalah yang dia hadapi tersebut, dan temannya menyarankan ia datang ke seorang psikiater untuk di terapi dan rekannya itu menyarankan agar ia mendatangi seorang psikiater di Jerman yang sangat terkenal. Singkat cerita Si Penulis terbang ke Jerman untuk terapi ke psikiater yang disarankan rekannya tersebut.
Sampai diruang psikiater tersebut, sang psikiater menjabat tangannya sambil tersenyum dan dengan gerakan tangannya menyuruh sang penulis masuk ke ruangannya dan duduk di kursi santai yang telah disediakan. Si penulis kemudian bercerita mengenai masalah-masalah yang ia alami dengan panjang lebar kepada psikiater yang mendengarkan dengan serius dan terkadang tersenyum apabila si penulis bercerita sambil tertawa. Si penulis merasa plong setelah menceritakan isi hatinya kepada psikiater tersebut dan ia merasa bahwa stress yang ia alami mulai hilang setelah terapi yang ia lakukan. Kemudian ia pamit kepada si psikiater dan pulang ke Amerika.
Sesampai di Amerika ia berterimakasih kepada rekannya atas saran yang diberikan untuk mengunjungi psikiater tersebut dan beban yang selama ini ia alami sudah terasa berkurang dan ia akan mulai lagi menulis buku.
Selama beberapa bulan sang penulis berkonsentrasi menulis buku dengan penuh ide-ide cemerlang yang sangat membuat hatinya senang dalam menyusun buku tersebut. Dan beberapa tahun kemudian si penulis telah menghasilkan beberapa buku yang beberapa diantaranya mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan menjadi “Best Seller”.
Si Penulis amat senang dan ia tidak lupa mengirimkan buku “Best Seller” hasil karyanya kepada psikiater yang telah membantunya. Didalam buku itu terdapat ucapan terimakasih si penulis kepada psikiater yang telah mengobati penyakitnya sehingga ia kembali menjadi manusia yang penuh ide-ide cemerlang.
Tapi mencurahkan isi hati bukan hanya milik para remaja, orang dewasapun sering melakukannya untuk menghilangkan unek-unek yang ada dihatinya atau berbagi kesenangan dengan sahabatnya. Ada sebuah kisah menarik mengenai CURHAT ini; Di Amerika ada seorang penulis buku yang sedang mengalami stress berat dan merasa dia kehilangan ide-ide segar untuk dijadikan bahan tulisannya. Kemudian ia menanyakan pada rekannya mengenai masalah yang dia hadapi tersebut, dan temannya menyarankan ia datang ke seorang psikiater untuk di terapi dan rekannya itu menyarankan agar ia mendatangi seorang psikiater di Jerman yang sangat terkenal. Singkat cerita Si Penulis terbang ke Jerman untuk terapi ke psikiater yang disarankan rekannya tersebut.
Sampai diruang psikiater tersebut, sang psikiater menjabat tangannya sambil tersenyum dan dengan gerakan tangannya menyuruh sang penulis masuk ke ruangannya dan duduk di kursi santai yang telah disediakan. Si penulis kemudian bercerita mengenai masalah-masalah yang ia alami dengan panjang lebar kepada psikiater yang mendengarkan dengan serius dan terkadang tersenyum apabila si penulis bercerita sambil tertawa. Si penulis merasa plong setelah menceritakan isi hatinya kepada psikiater tersebut dan ia merasa bahwa stress yang ia alami mulai hilang setelah terapi yang ia lakukan. Kemudian ia pamit kepada si psikiater dan pulang ke Amerika.
Sesampai di Amerika ia berterimakasih kepada rekannya atas saran yang diberikan untuk mengunjungi psikiater tersebut dan beban yang selama ini ia alami sudah terasa berkurang dan ia akan mulai lagi menulis buku.
Selama beberapa bulan sang penulis berkonsentrasi menulis buku dengan penuh ide-ide cemerlang yang sangat membuat hatinya senang dalam menyusun buku tersebut. Dan beberapa tahun kemudian si penulis telah menghasilkan beberapa buku yang beberapa diantaranya mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan menjadi “Best Seller”.
Si Penulis amat senang dan ia tidak lupa mengirimkan buku “Best Seller” hasil karyanya kepada psikiater yang telah membantunya. Didalam buku itu terdapat ucapan terimakasih si penulis kepada psikiater yang telah mengobati penyakitnya sehingga ia kembali menjadi manusia yang penuh ide-ide cemerlang.
Rabu, 02 Februari 2011
LEPASKAN IKATANMU
Di suatu hutan hiduplah sekelompok monyet. Pada suatu hari, tatkala mereka tengah bermain, tampak oleh mereka sebuah toples kaca berleher panjang dan sempit yang bagian bawahnya tertanam di tanah. Di dasar toples itu ada kacang yang sudah dibubuhi dengan aroma yang disukai monyet. Rupanya toples itu adalah perangkap yang ditaruh di sana oleh seorang pemburu.
Salah seekor monyet muda mendekat dan memasukkan tangannya ke dalam toples untuk mengambil kacang-kacang tersebut. Akan tetapi tangannya yang terkepal menggenggam kacang tidak dapat dikeluarkan dari sana karena kepalan tangannya lebih besar daripada ukuran leher toples itu. Monyet ini meronta-ronta untuk mengeluarkan tangannya itu, namun tetap saja gagal.
Seekor monyet tua menasihati monyet muda itu, “Lepaskanlah kepalanmu atas kacang-kacang itu! Engkau akan bebas dengan mudah!”
Namun monyet muda itu tidak mengindahkan anjuran tersebut, tetap saja ia bersikeras menggenggam kacang itu. Beberapa saat kemudian, sang pemburu datang dari kejauhan. Sang monyet tua kembali meneriakkan nasihatnya, “Lepaskanlah kepalanmu sekarang juga agar engkau bebas!”
Monyet muda itu ketakutan, namun tetap saja ia bersikeras untuk mengambil kacang itu. Akhirnya, ia tertangkap oleh sang
pemburu.
Demikianlah, kadang kita juga sering mencengkeram dan tidak rela melepaskan hal-hal yang sepatutnya kita lepaskan: kemarahan,
kebencian, iri hati, ketamakan, dan sebagainya. Apabila kita tetap tak bersedia melepas, tatkala kematian datang “menangkap” kita,
semuanya akan terlambat sudah. Bukankah lebih mudah jika kita melepaskan setiap masalah yang lampau, dan menatap hari esok dengan lebih cerah? Bukankah dunia akan menjadi lebih indah jika kita bisa melepaskan “kepalan” kita dan membagi kebahagiaan dengan orang lain ? (Swaramer)
Salah seekor monyet muda mendekat dan memasukkan tangannya ke dalam toples untuk mengambil kacang-kacang tersebut. Akan tetapi tangannya yang terkepal menggenggam kacang tidak dapat dikeluarkan dari sana karena kepalan tangannya lebih besar daripada ukuran leher toples itu. Monyet ini meronta-ronta untuk mengeluarkan tangannya itu, namun tetap saja gagal.
Seekor monyet tua menasihati monyet muda itu, “Lepaskanlah kepalanmu atas kacang-kacang itu! Engkau akan bebas dengan mudah!”
Namun monyet muda itu tidak mengindahkan anjuran tersebut, tetap saja ia bersikeras menggenggam kacang itu. Beberapa saat kemudian, sang pemburu datang dari kejauhan. Sang monyet tua kembali meneriakkan nasihatnya, “Lepaskanlah kepalanmu sekarang juga agar engkau bebas!”
Monyet muda itu ketakutan, namun tetap saja ia bersikeras untuk mengambil kacang itu. Akhirnya, ia tertangkap oleh sang
pemburu.
Demikianlah, kadang kita juga sering mencengkeram dan tidak rela melepaskan hal-hal yang sepatutnya kita lepaskan: kemarahan,
kebencian, iri hati, ketamakan, dan sebagainya. Apabila kita tetap tak bersedia melepas, tatkala kematian datang “menangkap” kita,
semuanya akan terlambat sudah. Bukankah lebih mudah jika kita melepaskan setiap masalah yang lampau, dan menatap hari esok dengan lebih cerah? Bukankah dunia akan menjadi lebih indah jika kita bisa melepaskan “kepalan” kita dan membagi kebahagiaan dengan orang lain ? (Swaramer)
Langganan:
Postingan (Atom)